Wednesday, 25 May 2016

Modal Rp 100.000, Dewi Sukses Raup Belasan Juta per Bulan dari Dendeng

Modal Rp 100.000, Dewi Sukses Raup Belasan Juta per Bulan dari Dendeng  
Foto: Maikel Jefriando
 
Lubuk Basung -Memulai bisnis memang bukan sesuatu pekerjaan yang mudah. Apalagi bisnis yang berkaitan dengan makanan. Kepercayaan konsumen menjadi hal yang sangat krusial untuk dipertahankan.

Begitulah prinsip yang dipegang teguh oleh Fatma Dewi hingga sekarang. Baginya, keuntungan dalam rupiah adalah efek dari kepercayaan yang diberikan oleh konsumen atas produk yan dijual.

"Biarlah rugi, asalkan kepercayaan orang bisa terjaga," tegas Dewi saat dikunjungi detikFinance di kediamannya, Lubuk Basung, Sumatera Barat pada pekan lalu.

Dewi menciptakan produk bernama Dendeng Rinuak. Ini adalah sejenis makanan ringan yang merupakan khas dari ranah minang. Belum banyak orang yang tahu, karena memang baru lahir dari racikan tangan ibu rumah tangga ini.

Rinuak merupakan sejenis ikan berukuran kecil, seperti teri yang hanya ada di danau Maninjau, Sumatera Barat. Bagi masyarakat sekitar, rinuak menjadi makanan sehari-sehari. Diolah dengan cara digoreng balado, pepes dan lainnya.

Sampai akhirnya pada 2014 silam, Dewi datang ke Maninjau. Rinuak bukan barang baru baginya. Dari kecil Dewi sudah mengkonsumsi rinuak, karena kediamannya yang tidak terlalu jauh dari danau tersebut. Akan tetapi dari kunjungan terakhir, Dewi melihat ada potensi yang besar untuk dikembangkan.

Dari kantongnya, dikeluarkan Rp 100.000 untuk membeli rinuak, tepung beras, daun jeruk dan minyak goreng. Olahan pertama adalah sala (sejenis pergedel), namun lebih tipis. Hasilnya ternyata belum memuaskan.


Dewi pun kembali ke dapur keesokan harinya untuk menggoreng kembali sala tersebut ditambah dengan beberapa bumbu. Bentuknya dibuat menjadi sangat tipis, seperti dendeng. Ternyata rasanya enak dan gurih. Maka kemudian lahirlah Dendeng Rinuak.

"Sebelumnya belum ada. Kan selama ini orang tahunya dendeng itu daging sapi. Nah ini ikan kecil, terus dihancurkan, diolah dan jadilah Dendeng Rinuak," jelasnya.

Ibu yang tadinya gemar membuat kue ini kemudian menjajakan Dendeng Rinuak kepada beberapa teman. Dewi mengaku tidak sedikit mendapat tanggapan yang seperti ejekan. Maklum saja, bagi sebagian orang tidak pernah terpikir ikan bisa berubah menjadi dendeng.

"Banyak yang bertanya itu makanan apaan. Karena pikiran orang banyak ikan jadi dendeng pasti tidak enak. Tapi ya kita kasih saja tester, kita sendiri yakin saja," terang Dewi bercerita.

Keyakinan Dewi menuai hasil yang positif. Pujian terhadap produk olahannya banyak berdatangan. Ia kemudian memberanikan diri untuk masuk ke toko-toko di Padang dengan berbentuk kemasan yang lebih menarik.

Dewi juga mulai mengurus syarat administrasi. Seperti PIRT (pangan Industri Rumah Tangga), label halal dan lainnya. Proses tersebut memakan waktu cukup lama, tapi tetap harus dipenuhi.

Dendeng Rinuak tersedia dalam berbagai kemasan. Mulai dari 1 ons dengan harga Rp 15.000 dan selanjutnya 1/4 kg dan 1/2 kg dengan harga sesuai kelipatannya.

Sekarang produknya sudah tersedia di hampir seluruh toko oleh-oleh ternama di wilayah Padang dan Bukittinggi. Baru saja, Dewi memperluas penjualan ke wilayah Pekanbaru, Riau yang dibantu oleh beberapa rekanan.


"Tadinya antar barang sendiri naik kendaraan umum. Sekarang sudah pakai kendaraan sendiri," ujarnya.

Dewi mengandalkan kediaman untuk produksi. Bersama dua orang pegawainya, mampu memproduksi 15 kg Dendeng Rinuak dalam sehari. Dalam sebulan penjualannya mencapai Rp 12 juta dengan laba bersih sekitar Rp 5 juta.

"Laba bersih rata-rata Rp 5 juta per bulan," imbuhnya.

Untuk promosi, Dewi masih menjalankan skema yang cendeung tradisional, yaitu dari mulut ke mulut. Meskipun ke depan akan didorong melalui penggunaan media sosial agar lebih banyak orang dapat mengetahui produknya.

"Akan dilakukan, kan inginnya Dendeng Rinuak bisa dikenal sebagai salah satu oleh-oleh khas minang oleh orang daerah lain dan dunia," ungkapnya.

Beberapa produk juga akan terus dikembangkan. Selain dendeng, sekarang Dewi coba memasarkan rakik (peyek), bada (teri) goreng dan abon. Untuk produk abon masih dalam tahap percobaan.

Dalam menjalankan bisnis, Dewi juga tidak terlepas dari berbagai tantangan. Di antaranya adalah panen rinuak yang bersifat musiman. Saat cuaca buruk yang biasanya terjadi dua kali setahun, produksi rinuak menurun. Sehingga yang harganya tadi Rp 12.000/kg bisa menjadi Rp 30.000/kg.

"Rinuak ini juga nggak bisa disimpan lama. Jadi saat beli langsung dimasak. Paling lama satu hari disimpan," pungkasnya. Dewi juga melatih para pegawai agar tetap menjaga kekuatan rasa dari produknya.(mkl/wdl)


Sumber: detik.com 

Sunday, 15 May 2016

Hanya dengan Modal Rp 200 Ribu, Wanita Ini Bisa Bikin Usaha dengan Omzet Rp 4 Juta per Hari

Sempat Terlilit Utang Rp 2 M, Wanita Ini Bangkit Jualan Selai Caramel  
Foto: Istimewa
 
Jakarta -Sempat merugi miliaran rupiah tak membuat wanita ini menyerah untuk terus melakukan usaha. Berbagai cara dilakukan untuk kembali bangkit meski dililit utang hampir Rp 2 miliar.

Wanita tersebut bernama Nani Kurniasari. Kisahnya berawal saat usaha katering miliknya yang sudah dirintisnya sejak 2003-2010 silam. Usaha katering ini akhirnya rugi dan meninggalkan utang.

Penderitaan Nani tak berhenti sampai di situ, saat usahanya rugi dan terlilit utang ia justru harus berpisah dengan suaminya. Dia sangat merasa terpuruk.

"Sebetulnya karena waktu itu kondisi lagi drop bisnis katering dari 2003-2010 bangkrut akhirnya saya rugi Rp 1,5 miliar. Bodohnya saya pinjam uang lagi sekitar total Rp 500 juta untuk menutup utang tadi, malah jadi tambah utangnya, jadi malah harus menutup utang sekitar Rp 2 miliar. Lalu lagi ada masalah begitu ditambah kehidupan keluarga pisah sama suami," ujar Nani Kurniasari, kepada detikFinance, Selasa (26/4/2016).

Setelah itu, ia bahkan sempat tidak memiliki pekerjaan dari tahun 2010-2013, sehingga mengandalkan pendapatan dari bantuan keluarganya, dan mulai bangkit di awal tahun lalu dengan membuat selai.

"Di 2010 sampai 2013 sempat vakum jadi saya mengandalkan sedapatnya dari pemberian keluarga. Kemudian 2014 mulai jualan lagi hijab tapi bangkitnya sejak tahun lalu sempat ikutan life coach untuk self healing. Nah dari situ ada tugas yang harus menghasilkan karya. Saya kan suka masak dan tidak mau ribet kalau katering kan ribet peralatannya banyak. Nah kalau selai ini mudah dan bisa dikerjain sendiri," lanjut Nani.

Wanita yang pernah kuliah di jurusan kelautan ini mengatakan, proses percobaan pembuatan selainya tidak mudah dari 4 sampel selai yang dibuatnya hanya 1 yang layak dijual. Saat ini selai yang dijualnya hanya 1 varian saja yaitu rasa karamel.


"Kalau sekarang jual 1 rasa yaitu selai karamel saja. Dulu itu waktu pertama kali percobaan bikin 4 dari 4 yang lolos cuma 1 sisanya pahit akhirnya coach saya bilang fokus untuk kerjain satu walaupun hasilnya kecil tapi harus ditekuni. Waktu yang bikin 4 itu emang bikinnya buru-buru sambil marah dan nggak fokus, makanya sekarang saya jual masih satu rasa aja mau fokus di satu dulu," kata Nani.

Modal awal yang dibutuhkan untuk usaha selainya ini sebesar Rp 200 ribu untuk bahan baku dan juga untuk kemasan toples. Selainya ini dijual dengan harga Rp 40 ribu/toples, 1 jarnya berisi 120 mg. Ia mengaku omzet dari penjualan selai move on miliknya ini mencapai Rp 4 juta per hari.

"Modal itu waktu awal Rp 200 ribu untuk bahan baku dan jar. Sehari bisa produksi sampai 300 jar. Alhamdulillah akhir-akhir minggu ini target jual 100 jar per hari bisa kekejar omzet sekarang Rp 4 juta per hari. Sebelumnya Rp 4-5 juta itu paling sebulanan bikin 10 jar aja seminggu nggak habis-habis," tuturnya.

Wanita yang memiliki 4 anak ini mengatakan, ia mengerjakan usaha selainya ini dibantu oleh kedua orang temannya. Saat ini ia memasarkan selai buatannya melalui teman-temannya dan juga melalui online seperti Facebook, Instagram, dan Twitter.

Ke depan ia berharap bisa membuat rumah selai yang bisa dimanfaatkan untuk menjual selai dan produk-produk lainnya, serta bisa memasarkan produknya sampai ke luar negeri.

"Sekarang untuk 1 resep itu buatnya 10 jam, bikinnya di rumah dibantu sama teman ada 2 orang. Pemasaran barang sih masih mouth to mouth dan online di Instagram, Facebook, dan Twitter masih belum dipikirin untuk sampai besar tapi ke depan pengennya bikin rumah selai move on nanti disitu ada selai atau ada produk-produk lain dari teman-teman yang mungkin lagi move on juga masih ngumpulin modal sih karena kan besar," ujarnya.

"Kemasan juga dipercantik jadi kalau orang mau kasih gift nggak malu-maluin begitu. Kalau pengiriman paling jauh ke Papua kalau ke luar negeri paling lewat teman ada yang titip selai move on pas teman lagi ke sana minta bawain ada yang ke Kanada, UK tapi belum pengiriman masih lewat teman saja," ujarnya.

Sumber : www.detik.com